14 Feb 2016

Hidup dan Keberuntungan

Standard

Bukankah semua cuma soal keberuntungan?
Beruntung terlahir jadi A, jadi B, C X².
Beruntung terlahir bukan jadi kodok, jadi capung, lumut, kapur barus.
Beruntung usaha keras yang berhasil.
Beruntung pantang menyerah.
Tuh kan, semua nggak lepas dari keberuntungan.
Lantas, pantaskah kita merasa paling superior?

Kita, manusia, sama dimata-NYA.
Rumah saya di desa, tidak terlalu pelosok. Tiap saya liburan biasanya larinya ke wisata alam yang kebanyakan di pinggiran kota, jauh dari kota. Lebih desa daripada desa saya. 
Sekarang bandingkan hidup kita dengan mereka yang ada di pelosok desa, hal kecil saja, kita sering main ke kota, nongkrong di taman atau aloon-aloon kota, dan lainnya.
Apalagi kamu yang tinggal di kota, atau kamu yang tak jarang bersenang-senang.
Bandingkan.
Mereka? Belum tentu sesering kita. Sepele.

Dan, bagaimana jika kamu berganti posisi dengan mereka?

_____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Memories Of Norb

Standard
"Memories Of Norb"
"Ran, berhenti mencatat bentar. Lihat ke kamera dulu."
"Yut." Ran memotong lirih. 
"Gimana kalau suatu saat nanti hari itu akan datang. Hari dimana ingatan kita lambat laun mulai melemah. Apakah memori yang kita rangkai ini akan hilang?" tanya Ran sambil meletakkan buku catatan. Menunduk, terlihat ada rasa khawatir bergejolak di hatinya.

Ran dan Yutav adalah sepasang kekasih sekaligus relawan peneliti yang berasal dari planet tersembunyi "Norb", mereka lama tinggal di Bumi. Wujud mereka seperti manusia pada umumnya.

5 tahun yang lalu Ran dan Yutav menjadi relawan, melakukan uji coba untuk tinggal di planet yang rencananya akan dijadikan persinggahan bagi rakyat Norb karena planet Norb diprediksikan akan menabrak asteroid dalam 20 tahun mendatang. Namun takdir berkata lain, prediksi tersebut terjadi sebelum genap 20 tahun. Tak sempat dievakuasi, planet Norb hancur beserta isi dan penghuninya.

Tidak ada pilihan bagi Ran dan Yutav selain untuk menetap di Bumi, tanpa sepengetahuan manusia Bumi. Mereka hidup dengan segala keterbatasan, hanya berbekal pengetahuan sebagai seorang peneliti. Pada dasarnya manusia Norb dan Bumi tidak jauh berbeda.
Hanya saja ada satu permasalahan, manusia Norb mempunyai daya ingat yang lemah untuk mengingat orang-orang yang dikenalnya. Untuk memperkuat daya ingat, manusia Norb harus imunisasi. Semacam menyuntikan serum penguat daya ingat setiap satu tahun sekali. Jika tidak, ingatan mereka akan melemah dan jika dibiarkan, ingatan mereka tentang orang disekitarnya atau yang pernah dikenalnya akan menghilang. Sialnya, meskipun mereka peneliti yang handal, serum tersebut tidak bisa dibuat di Bumi karena adanya bahan yang hanya bisa ditemukan di planet Norb.

"Yut, kita seperti menelan bom waktu. Pada akhirnya kita akan saling melupakan. Kita memang peneliti, tapi percuma. Kita hanya hidup menunggu datangnya hari itu." Ran meneteskan air mata.
"Maka, jangan sampai itu terjadi. Ran, video dan catatan yang kita buat selama ini adalah pengingat. Antara aku, kamu dan masalalu kita." saut Yutav meyakinkan.
"Lupakan bahwa kita adalah peneliti. Terpenting adalah kita saling jaga." tambah Yutav.



_____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Ternyata Bumi

Standard
Bruaaagh... Benturan dengan asteroid pun tak bisa terhindari.

"Laporkan situasi sekarang!"
"Siap! Roket pendorong bagian kanan mati, tangki bahan bakar mengalami kebocoran, kerusakan pada sistem mencapai 48%. Kita harus melakukan pendaratan darurat, Kapten." 
"Segera kamu deteksi keberadaan planet terdekat, akan saya bantu dengan kemampuan saya." Kapten mencoba tegar. Dia pun mulai memejamkan matanya.
"Kapten ngapain?"
"Berdoa!" singkat sang Kapten menjawab.

Tut...tut..tut...

"Kapten, sepertinya radar telah mendeteksi adanya planet. Kapten memang hebat, doanya langsung terkabul. Jadi ini kekuatan asli orang yang tersiksa?" terkagum si anak buah sambil mengangguk paham.
"Gundulmu tersiksa! Sana, cepat analisis planetnya. Seberapa jauh jaraknya?"
"Tidak lebih jauh dari jarak saya denga pacar saya, Kapten."
"Simpan bapermu! Siapkan pendorong dan gunakan bahan bakar cadangan. Kita kesana!"

Setelah menembus atmosfer, mereka pun mulai mencari tempat untuk mendarat. Namun sejauh mereka mengitari planet tersebut yang ditemuinya hanyalah air.

"Kapten, menurut informasi dari database yang kita punya, planet ini bernama Bumi."
"Bumi? Bukankah Bumi planet yang mempunyai komposisi air dan daratan yang indah? Bahkan kita pernah merencanakan invlasi besar-besaran untuk merebut planet Bumi. Kamu pasti salah, ini bukan Bumi. Disini yang ada hanya air."
"Benar, Kapten. Namun itu dulu, sebelum manusia Bumi mengenal keserakahan." mereka saling terdiam, seolah berada dalam sinetron.
"Bagaimana, apa kita cari planet lain saja, Kapten?" lanjut tanya si anak buah kepada sang Kapten setelah lama mereka saling terdiam selama 2 hari.
"Tidak usah! Percuma"
"Kenapa, apa maksud kapten?" tanya si anak buah bingung.
"Percuma, lihat keluar jendela. Kita terlalu lama terdiam sampai tidak sadar kalau kita sudah mendarat, di dasar laut, kita tenggelam. Bahan bakar cadangan kita habis."
"Wuaaaaaaaaaaaaaa....aaaaa...aaaa." jerit mereka bersamaan.
"Wuaaaaaaaaaaaaaa....aaaaa...aaaa." mereka masih menjerit bersamaan.


Entah sampai kapan.
END.










____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

.....aaa?

Standard

".....aaa?"
"Liburan yuk, Dek. Tapi enaknya kemana ya, ada saran nggak?"
"Renang gimana, Bang?"
"Jangan renang, kemarin ada yang seumuran kamu, dia tenggelam."
"Seriusan, Bang? Renangnya di kolam yang dalam kali, Bang."
"Katanya sih kolamnya dan dangkal, airnya cuma sepaha."
"Sepaha kok bisa tenggelam?"
"Iya, sepaha... Pahanya Ultraman."
"Trus kemana dong?" tanya si Adek sambil noyor gemes kepala si Abang sampai muter 360 derajat.
"Aduh, Dek. Kok ditoyor sih. Perih tauuuk, kamu noyornya pas mata... Oke, begini aja deh, gimana kalau kita ke pantai?"
"Nggak mau!!! Pantai banyak cewek sexy, pasti si Abang matanya berkelana. Mau ditoyor lagi?" jawab si Adek dengan mengerutkan dahinya.
"Yaelah, Dek. Abang kan cowok baik-baik. Kalau ada cewek sexy lewat, janji deh si Abang langsung tutup mata.... Pakai plastik."
"Tuh kan jahat, nggak mau. Gini deh, kita ke situs bersejarah aja!"
"Boleh deh, ayo kita berangkat. Itu pintunya sudah Abang siapin. Kamu yang pilih tempatnya aja, Dek"

*pintu kemana sajaaa*

"Kita sudah sampai, Bang."
"Loh, katanya ke situs bersejarah. Kok banyak jemuran ikan asinnya? Kita nggak salah tempat kan, Dek?" si Abang terlihat bingung.
"Enggak, Bang. Bener kok, ini tempat bersejarah. Sejarah kita, Bang. Di tempat ini, pertama kali kita bertemu dan akhirnya jatuh cinta."
"Seriusan, Dek. Bukannya kita pertama kali ketemu di dokter hewan. Waktu itu kamu lagi berobat panu dulu."
"Ha? Astagaaa... Maaf Bang, adek lupa. Bener sih ini tempat bersejarah, tapi sejarah sama mantan. Ini dulu tempat pertama kali kami ketemu di acara salted-fish party, itu ulang tahunnya kucing kampung komplek sebelah."
"....................aaa?" si Abang pun tak bisa berkata-kata.

Allah Rohman... Allah Rohim.
[Backsound: Opick - Cahaya Hati]

Balada Cinta Doraemon dan Kucing Kampung.


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Kesempatan

Standard

Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk kembali ke masa lalu...
Apakah kamu senang?
Apakah kamu takut?
Pasti senang, awalnya saya juga berpikir sama, senang jika hal itu terjadi.

Tapi.....

Tunggu sebentar, bagaimana kalau ternyata saat kita kembali ke masa lalu, kita tidak mengingat apapun dari memori perjalanan hidup yang telah lama kita simpan hingga masa dimana nyatanya saat ini kita berada. Niat ingin memperbaiki kesalahan dari masa lalu, merubah kesedihan menjadi kebahagiaan, bukankah semua akan sia-sia karena pada akhirnya yang terjadi hanya tentang pengulangan peristiwa.
Mengulang kesalahan yang sama.
Mengulang rasa sakit yang sama.
Mengulang rasa kecewa yang sama.
Mengulang pertemuan, tetapi juga mengulang perpisahan.

Ibarat balikan dengan mantan.
Kita bisa merasakan kasih sayangnya kembali, tetapi mungkin juga akan merasakan pengkhianatannya lagi.
Bedanya jika kita kembali ke masa lalu tanpa mengingat memori di masa depan, lalu mengulang rantai kesedihan, kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita pernah mengalami kesedihan tersebut sebelumnya.

Semua yang direncanakan tidak selalu berjalan lancar. Tidak harus kembali ke masa lalu dan tidak harus melupakan masa lalu. Saya kurang setuju jika ada orang yang menolak menoleh ke belakang. Bukankah lebih baik sempatkan menoleh ke belakang belajar untuk bekal diperjalanan yang akan datang?

_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.