14 Feb 2016

Hidup dan Keberuntungan

Standard

Bukankah semua cuma soal keberuntungan?
Beruntung terlahir jadi A, jadi B, C X².
Beruntung terlahir bukan jadi kodok, jadi capung, lumut, kapur barus.
Beruntung usaha keras yang berhasil.
Beruntung pantang menyerah.
Tuh kan, semua nggak lepas dari keberuntungan.
Lantas, pantaskah kita merasa paling superior?

Kita, manusia, sama dimata-NYA.
Rumah saya di desa, tidak terlalu pelosok. Tiap saya liburan biasanya larinya ke wisata alam yang kebanyakan di pinggiran kota, jauh dari kota. Lebih desa daripada desa saya. 
Sekarang bandingkan hidup kita dengan mereka yang ada di pelosok desa, hal kecil saja, kita sering main ke kota, nongkrong di taman atau aloon-aloon kota, dan lainnya.
Apalagi kamu yang tinggal di kota, atau kamu yang tak jarang bersenang-senang.
Bandingkan.
Mereka? Belum tentu sesering kita. Sepele.

Dan, bagaimana jika kamu berganti posisi dengan mereka?

_____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Memories Of Norb

Standard
"Memories Of Norb"
"Ran, berhenti mencatat bentar. Lihat ke kamera dulu."
"Yut." Ran memotong lirih. 
"Gimana kalau suatu saat nanti hari itu akan datang. Hari dimana ingatan kita lambat laun mulai melemah. Apakah memori yang kita rangkai ini akan hilang?" tanya Ran sambil meletakkan buku catatan. Menunduk, terlihat ada rasa khawatir bergejolak di hatinya.

Ran dan Yutav adalah sepasang kekasih sekaligus relawan peneliti yang berasal dari planet tersembunyi "Norb", mereka lama tinggal di Bumi. Wujud mereka seperti manusia pada umumnya.

5 tahun yang lalu Ran dan Yutav menjadi relawan, melakukan uji coba untuk tinggal di planet yang rencananya akan dijadikan persinggahan bagi rakyat Norb karena planet Norb diprediksikan akan menabrak asteroid dalam 20 tahun mendatang. Namun takdir berkata lain, prediksi tersebut terjadi sebelum genap 20 tahun. Tak sempat dievakuasi, planet Norb hancur beserta isi dan penghuninya.

Tidak ada pilihan bagi Ran dan Yutav selain untuk menetap di Bumi, tanpa sepengetahuan manusia Bumi. Mereka hidup dengan segala keterbatasan, hanya berbekal pengetahuan sebagai seorang peneliti. Pada dasarnya manusia Norb dan Bumi tidak jauh berbeda.
Hanya saja ada satu permasalahan, manusia Norb mempunyai daya ingat yang lemah untuk mengingat orang-orang yang dikenalnya. Untuk memperkuat daya ingat, manusia Norb harus imunisasi. Semacam menyuntikan serum penguat daya ingat setiap satu tahun sekali. Jika tidak, ingatan mereka akan melemah dan jika dibiarkan, ingatan mereka tentang orang disekitarnya atau yang pernah dikenalnya akan menghilang. Sialnya, meskipun mereka peneliti yang handal, serum tersebut tidak bisa dibuat di Bumi karena adanya bahan yang hanya bisa ditemukan di planet Norb.

"Yut, kita seperti menelan bom waktu. Pada akhirnya kita akan saling melupakan. Kita memang peneliti, tapi percuma. Kita hanya hidup menunggu datangnya hari itu." Ran meneteskan air mata.
"Maka, jangan sampai itu terjadi. Ran, video dan catatan yang kita buat selama ini adalah pengingat. Antara aku, kamu dan masalalu kita." saut Yutav meyakinkan.
"Lupakan bahwa kita adalah peneliti. Terpenting adalah kita saling jaga." tambah Yutav.



_____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Ternyata Bumi

Standard
Bruaaagh... Benturan dengan asteroid pun tak bisa terhindari.

"Laporkan situasi sekarang!"
"Siap! Roket pendorong bagian kanan mati, tangki bahan bakar mengalami kebocoran, kerusakan pada sistem mencapai 48%. Kita harus melakukan pendaratan darurat, Kapten." 
"Segera kamu deteksi keberadaan planet terdekat, akan saya bantu dengan kemampuan saya." Kapten mencoba tegar. Dia pun mulai memejamkan matanya.
"Kapten ngapain?"
"Berdoa!" singkat sang Kapten menjawab.

Tut...tut..tut...

"Kapten, sepertinya radar telah mendeteksi adanya planet. Kapten memang hebat, doanya langsung terkabul. Jadi ini kekuatan asli orang yang tersiksa?" terkagum si anak buah sambil mengangguk paham.
"Gundulmu tersiksa! Sana, cepat analisis planetnya. Seberapa jauh jaraknya?"
"Tidak lebih jauh dari jarak saya denga pacar saya, Kapten."
"Simpan bapermu! Siapkan pendorong dan gunakan bahan bakar cadangan. Kita kesana!"

Setelah menembus atmosfer, mereka pun mulai mencari tempat untuk mendarat. Namun sejauh mereka mengitari planet tersebut yang ditemuinya hanyalah air.

"Kapten, menurut informasi dari database yang kita punya, planet ini bernama Bumi."
"Bumi? Bukankah Bumi planet yang mempunyai komposisi air dan daratan yang indah? Bahkan kita pernah merencanakan invlasi besar-besaran untuk merebut planet Bumi. Kamu pasti salah, ini bukan Bumi. Disini yang ada hanya air."
"Benar, Kapten. Namun itu dulu, sebelum manusia Bumi mengenal keserakahan." mereka saling terdiam, seolah berada dalam sinetron.
"Bagaimana, apa kita cari planet lain saja, Kapten?" lanjut tanya si anak buah kepada sang Kapten setelah lama mereka saling terdiam selama 2 hari.
"Tidak usah! Percuma"
"Kenapa, apa maksud kapten?" tanya si anak buah bingung.
"Percuma, lihat keluar jendela. Kita terlalu lama terdiam sampai tidak sadar kalau kita sudah mendarat, di dasar laut, kita tenggelam. Bahan bakar cadangan kita habis."
"Wuaaaaaaaaaaaaaa....aaaaa...aaaa." jerit mereka bersamaan.
"Wuaaaaaaaaaaaaaa....aaaaa...aaaa." mereka masih menjerit bersamaan.


Entah sampai kapan.
END.










____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

.....aaa?

Standard

".....aaa?"
"Liburan yuk, Dek. Tapi enaknya kemana ya, ada saran nggak?"
"Renang gimana, Bang?"
"Jangan renang, kemarin ada yang seumuran kamu, dia tenggelam."
"Seriusan, Bang? Renangnya di kolam yang dalam kali, Bang."
"Katanya sih kolamnya dan dangkal, airnya cuma sepaha."
"Sepaha kok bisa tenggelam?"
"Iya, sepaha... Pahanya Ultraman."
"Trus kemana dong?" tanya si Adek sambil noyor gemes kepala si Abang sampai muter 360 derajat.
"Aduh, Dek. Kok ditoyor sih. Perih tauuuk, kamu noyornya pas mata... Oke, begini aja deh, gimana kalau kita ke pantai?"
"Nggak mau!!! Pantai banyak cewek sexy, pasti si Abang matanya berkelana. Mau ditoyor lagi?" jawab si Adek dengan mengerutkan dahinya.
"Yaelah, Dek. Abang kan cowok baik-baik. Kalau ada cewek sexy lewat, janji deh si Abang langsung tutup mata.... Pakai plastik."
"Tuh kan jahat, nggak mau. Gini deh, kita ke situs bersejarah aja!"
"Boleh deh, ayo kita berangkat. Itu pintunya sudah Abang siapin. Kamu yang pilih tempatnya aja, Dek"

*pintu kemana sajaaa*

"Kita sudah sampai, Bang."
"Loh, katanya ke situs bersejarah. Kok banyak jemuran ikan asinnya? Kita nggak salah tempat kan, Dek?" si Abang terlihat bingung.
"Enggak, Bang. Bener kok, ini tempat bersejarah. Sejarah kita, Bang. Di tempat ini, pertama kali kita bertemu dan akhirnya jatuh cinta."
"Seriusan, Dek. Bukannya kita pertama kali ketemu di dokter hewan. Waktu itu kamu lagi berobat panu dulu."
"Ha? Astagaaa... Maaf Bang, adek lupa. Bener sih ini tempat bersejarah, tapi sejarah sama mantan. Ini dulu tempat pertama kali kami ketemu di acara salted-fish party, itu ulang tahunnya kucing kampung komplek sebelah."
"....................aaa?" si Abang pun tak bisa berkata-kata.

Allah Rohman... Allah Rohim.
[Backsound: Opick - Cahaya Hati]

Balada Cinta Doraemon dan Kucing Kampung.


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Kesempatan

Standard

Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk kembali ke masa lalu...
Apakah kamu senang?
Apakah kamu takut?
Pasti senang, awalnya saya juga berpikir sama, senang jika hal itu terjadi.

Tapi.....

Tunggu sebentar, bagaimana kalau ternyata saat kita kembali ke masa lalu, kita tidak mengingat apapun dari memori perjalanan hidup yang telah lama kita simpan hingga masa dimana nyatanya saat ini kita berada. Niat ingin memperbaiki kesalahan dari masa lalu, merubah kesedihan menjadi kebahagiaan, bukankah semua akan sia-sia karena pada akhirnya yang terjadi hanya tentang pengulangan peristiwa.
Mengulang kesalahan yang sama.
Mengulang rasa sakit yang sama.
Mengulang rasa kecewa yang sama.
Mengulang pertemuan, tetapi juga mengulang perpisahan.

Ibarat balikan dengan mantan.
Kita bisa merasakan kasih sayangnya kembali, tetapi mungkin juga akan merasakan pengkhianatannya lagi.
Bedanya jika kita kembali ke masa lalu tanpa mengingat memori di masa depan, lalu mengulang rantai kesedihan, kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita pernah mengalami kesedihan tersebut sebelumnya.

Semua yang direncanakan tidak selalu berjalan lancar. Tidak harus kembali ke masa lalu dan tidak harus melupakan masa lalu. Saya kurang setuju jika ada orang yang menolak menoleh ke belakang. Bukankah lebih baik sempatkan menoleh ke belakang belajar untuk bekal diperjalanan yang akan datang?

_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Cerita Budi

Standard
Budi bermimpi, ia dan ibunya pergi ke sebuah gedung pertunjukan. Dalam gedung tersebut mereka duduk bersebelahan di sebuah panggung. Dihadapkan dengan seorang pria berpakaian rapi di depannya serta terdapat pula sebuah layar monitor.

"Ibu, kita dimana?", tanya Budi kebingungan.
"Fokus, Budi, Fokus!", jawab ibu Budi dengan tegas.

Deng deng.. Deng deng.. Suara seperti gema lonceng terdengar berulang.

"Bagaimana, apakah anda berdua memutuskan menjawab pertanyaan ini secara langsung atau dengan bantuan yang tersisa. Gunakan telepon yang ada disamping ini untuk melakukan Phone A Friend!"

Budi tersadar, bahwa mereka sedang berada disebuah kuis. Dan pria yang dihadapan mereka adalah pembawa acara kuis tersebut.

"Budi, kita pakai bantuan terakhir. Hubungi Ani! Ini nomornya", pinta sang ibu kepada Budi.
"Ani? Ani siapa, Bu?", sambil melihat nomor yang diberikan oleh ibunya. 
"Ani istri kamu lah."

Bletaak... Suara benda jatuh membuat Budi terbangun dari mimpi singkatnya. Budi terdiam sejenak memikirkan mimpi yang dialami barusan, air matanya keluar perlahan. Dia bermimpi bersama dengan ibunya yang telah lama tiada. Dia merasa berhutang janji, mengingat semasa ibunya hidup, beliau ingin sekali dikenalkan dengan calon istri Budi. Apadaya, Budi masih saja melajang hingga hari dimana ibunya telah tiada. Ada yang menganggu dipikiran Budi. Budi masih penasaran dengan nomor telepon yang masih tersirat jelas dikepalanya. Hari belum berganti, jam masih menunjukan jam 10 malam. Iseng, seketika Budi pun menelpon nomor tersebut detik itu juga. Tapi tak bisa karena kehabisan pulsa, pagi harinya Budi membeli pulsa untuk sekali lagi menelpon nomor tersebut. Budi pun terkejut ketika nomor itu benar tersambung dan yang mengangkatnya seorang wanita. Ketika Budi memberitahu namanya, lantas Budi balik bertanya siapa nama wanita tersebut. Budi semakin tercengang ketika tau wanita tersebut bernama Ani, seumuran dengannya.
Dan Budi juga sadar, mungkin ibunya di surga meminta bantuan Tuhan untuk membuka jalan bagi anaknya. Semenjak saat itu Budi berusaha untuk mendapatkan cinta Ani. Semua karena jalan dari Tuhan melalui mimpinya bersama ibunya. Enak sekali Budi, ngacak nomor dari mimpi eh dapet kenalan. Iri.


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram). Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

TEMA : Meneruskan Kalimat, "Budi bermimpi, ia dan ibunya pergi ke...........................Tapi tak bisa karena kehabisan pulsa, pagi harinya......................."


MELAWAN AKAL SEHAT

Standard
Rasa haus dimalam hari harus memaksaku untuk memacu motorku ke sebuah swalayan (bukan swalayan yang bermaret). Sepi.
Beranjak turun dari motor, ku buka pintu swalayan dan langsung menuju ke lemari pendingin, segera kuambil beberapa minuman di dalamnya. Saat aku berbalik dan berjalan ke arah kasir, betapa terkejutnya aku, berdiri seorang perempuan cantik yang tak lain adalah kasir dari swalayan tersebut. Rambutnya terurai panjang. Kalau dibanding dengan kasir cantik yang pernah rame di sosial media, kasir ini juaranya. Kecantikan yang natural, memang tampaknya kurang ramah. Lebih tepatnya hanya bersikap pasif, jelas terlihat dari tidak adanya senyuman yang tergaris di bibirnya. Sejak saat itu aku lebih memilih beli minuman dingin atau keperluan lain di swalayan tersebut, ya meskipun pilihannya memang lebih sedikit dibanding swalayan ternama lainnya. Aku suka berbelanja malam hari sekitar jam sebelasan, karena pikirku siang pasti ramai. Dan sering kali aku dihadapkan dengan kasir itu. Suka. Meskipun tidak ada yang berbeda dari dirinya, selalu saja tidak pernah ada garis senyuman di bibirnya. Hingga suatu hari, saat aku membeli minuman dan berjalan menuju kasir di swalayan yang sama, berdirilah sosok perempuan yang berbeda dengan wajah pucat sedih serta tatapan kosong.

"Kemana mbak kasir yang biasanya?", Tanyaku dalam hati. Oh mungkin dia sedang sakit. Dilain kesempatan, aku kesana siang hari. Kasirnya malah laki-laki. Akupun memberanikan diri bertanya ke kasir laki-laki tersebut. "Mas, kasir cewek yang jaga tengah malam kemana?", tanyaku lirih. 
"Kasir? Jaga malam?", balas sang kasir.

"Kira-kira seminggu yang lalu dia masih kerja disini, rambutnya panjang dan tidak pernah tersenyum", jelasku.

Kasir baru itu pun terdiam sejenak. Kembali dia menjawab, "Maksud mas, mbak Aya? Tidak mungkin, masnya bercanda". Kasir itu tersenyum.

"Tidak mungkin bagaimana?", tanyaku bingung.

"Mas, swalayan ini hanya buka hingga jam 9 malam. Dan lagi, mbak Aya itu sudah meninggal dunia tiga bulan lalu, dia kecelakaan bersama karyawati lain yang kerja disini juga. Mereka berdua tewas di tempat."

Sontak, aku hanya terdiam. Terang saja aku terkejut, pasalnya tidak hanya sekali aku berjumpa dengan si Aya yang ternyata telah meninggal itu. Hari itu adalah hari terakhir aku berbelanja di swalayan tersebut. Entah, aku merasa kapok dan tidak ingin berbelanja disitu lagi.


_____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

TEMA: Crush On Random Stranger.

TSUBASA KUNCORO

Standard
Kala senja disebuah minimarket, seorang ibu muda, bersin. 
Disaat yang sama di rumah bersalin, secara tidak sengaja terlahir ke dunia seorang manusia yang nantinya akan menjadi bahan perbincangan di masa yang akan datang.

Tsubasa Kuncoro, nama yang diberikan oleh orang tuanya setelah lama berlangganan software abal-abal Primbon Jawa. #IYKWIM
Dia tumbuh dengan baik. Diusianya yang ketiga, Tsubasa sudah bisa menggombal ala 'Bapak kamu...'.
Dilain sisi Tsubasa tetap sama seperti balita pada umunya. Tsubasa kecil senang bermain, dari mulai bermain robot-robotan hingga bermain perempuan... dalam bentuk boneka. 
Suatu hari Tsubasa diberi hadiah oleh Ibunya, benda bulat, lebih besar daripada kepalanya saat itu. Benda tersebut bernama BOLA. Tsubasa sangat senang. Sejak saat itu Tsubasa hanya bermain dengan bolanya. Meninggalkan mainannya yang lain. Namun, dia tidak tahu cara memainkan bola tersebut. Sehingga Tsubasa hanya menjilatinya saja selama 7 tahun kedepan. Hingga akhirnya Tsubasa sadar caranya bermain bola itu salah. Penasaran, dia mencari tutorial di internet cara memainkan bola dengan benar. Dan yang ditemukannya adalah permainan sepak bola. Dia tercengang, terdiam, dan muntah, Tsubasa mabuk laut. Pasalnya saat itu dia sedang naik kapal menuju Tokyo dalam rangka pindah rumah karena tempat tinggalnya yang dulu telah hancur tertimpa badan Monster yang sedang berkelahi dengan Ultraman.

Karena bola, Tsubasa mempunyai mimpi, dia sering berteriak semangat.
"Dengan bola, aku ingin menjadi.... RENTENIR!".

Maaf, maksudnya pemain sepak bola.

Dan sesampainya di Tokyo, Tsubasa mencari informasi tentang klub sepak bola.
Tsubasa mempunyai ambisi, dia bergabung dengan klub bola bernama PSTS (Persatuan Sepak Bola Tokyo dan Sekitarnya). Motto Tsubasa adalah;

"BOLA SAYA ADALAH BUNDAR, KALAU TIDAK BUNDAR BUKAN BOLA SAYA. LALU BOLA SIAPA?"

Menjalani latihan yang serius selama 6 jam... lebih 9 tahun, Tsubasa berhasil menjadi pemain profesional diusianya yang ke-19. Dengan kemampuan yang luar biasa, Tsubasa yang sekarang adalah sosok yang arogan. Tsubasa menikmati karirnya diusia muda, berprestasi, namun tetap arogan. Dia hanya menikmati urusan duniawi, berfoya-foya, lalai akan urusan dengan Tuhannya, parahnya Tsubasa tidak pernah mau tiap diajak mengaji. Suatu hari Tsubasa dihadapkan disebuah pertandingan besar dengan lawan yang teramat tangguh. Pertandingan antara PSTS (Persatuan Sepak Bola Tokyo dan Sekitarnya) melawan klub yang berasal dari negara Brazil. Klub bola tersebut bernama, Brazil.

Pertandingan pun dimulai, Tubasa menggiring bola dengan lincah dan tidak ada yang berani menghalanginya. Baru 10 detik pertama, dengan kemampuan Tsubasa, dia berhasil menciptakan gol.

"GOOOAAAALLLL!!!"
 
Skor sementara adalah PSTS 0 : Brazil 1.

Ternyata Tsubasa salah memasukkan bolanya ke gawang sendiri.

Begitulah Tsubasa, dia arogan. Tsubasa kalau arogan suka lupa diri, lupa akal.

Lantas Tsubasa tidak mudah menyerah begitu saja, dia berhasil mencetak gol diakhir pertandingan babak pertama. Skor imbang untuk kedua kesebelasan. Dibabak kedua Tsubasa berhasil mencetak 2 gol tambahan, disaat Brazil lebih dulu meraih 5 gol tambahan. Skor mencapai 6:3. Tsubasa selaku kapten kesebelasan mulai panik, permainan yang keras, bahkan tak jarang Tsubasa diberi peringatan oleh wasit yang berujung diusirnya Tsubasa dari lapangan. Tsubasa tidak terima...

"Apa maksudmu? Kamu tidak berhak mengusir saya, saya ini Tsubasa Kuncoro!", bentak Tsubasa kepada sang wasit. 
"Saya ini wasit, saya hakim disini. Sana, pergi dari lapangan!", balas sang wasit. 
Tsubasa semakin murka, "Kamu tidak berhak menyuruh saya, kamu bukan pacar saya, apalagi keluarga saya!".

Jedddaaaarrrrrr...

Seketika turun hujan dengan sambaran petir yang langsung membuat semua orang disitu terdiam atas apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tsubasa berubah menjadi batu.
Dia lagi-lagi lupa, yang jadi wasit itu Ibunya.

TAMAT


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).


Isyaratmu

Standard

Duduk berdua denganmu.
Beralas hijaunya Savana.
Suara angin yang menerpa.
Rumput liar menari kala senja.

Meski kau 'tak sanggup bersuara.
Bukan batasan untuk kita.
Pesan yang kita terima, adalah sama.
Begitu pun rasa yang kita punya.

Percayalah.

Saat kau berusaha menepis, 'tak bisa kau teriak kencang.
Ketika tanganmu yang mengatakan.
Rasa ragumu atas dirimu.
Jika kau ragu, maka ragulah.
Semakin kau ragu, semakin kau mencari
keyakinan itu.

Percayalah.

Bahwa bedamu bukan hukuman.

Sempurna adalah ketidaksempurnaan.

Sadarku adalah dirimu.

Kau mengerti.

Aku pahami.

Bukankah itu cukup?

Cukup.

Kita sama.

Percayalah.