14 Feb 2016

Kesempatan

Standard

Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk kembali ke masa lalu...
Apakah kamu senang?
Apakah kamu takut?
Pasti senang, awalnya saya juga berpikir sama, senang jika hal itu terjadi.

Tapi.....

Tunggu sebentar, bagaimana kalau ternyata saat kita kembali ke masa lalu, kita tidak mengingat apapun dari memori perjalanan hidup yang telah lama kita simpan hingga masa dimana nyatanya saat ini kita berada. Niat ingin memperbaiki kesalahan dari masa lalu, merubah kesedihan menjadi kebahagiaan, bukankah semua akan sia-sia karena pada akhirnya yang terjadi hanya tentang pengulangan peristiwa.
Mengulang kesalahan yang sama.
Mengulang rasa sakit yang sama.
Mengulang rasa kecewa yang sama.
Mengulang pertemuan, tetapi juga mengulang perpisahan.

Ibarat balikan dengan mantan.
Kita bisa merasakan kasih sayangnya kembali, tetapi mungkin juga akan merasakan pengkhianatannya lagi.
Bedanya jika kita kembali ke masa lalu tanpa mengingat memori di masa depan, lalu mengulang rantai kesedihan, kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita pernah mengalami kesedihan tersebut sebelumnya.

Semua yang direncanakan tidak selalu berjalan lancar. Tidak harus kembali ke masa lalu dan tidak harus melupakan masa lalu. Saya kurang setuju jika ada orang yang menolak menoleh ke belakang. Bukankah lebih baik sempatkan menoleh ke belakang belajar untuk bekal diperjalanan yang akan datang?

_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

Cerita Budi

Standard
Budi bermimpi, ia dan ibunya pergi ke sebuah gedung pertunjukan. Dalam gedung tersebut mereka duduk bersebelahan di sebuah panggung. Dihadapkan dengan seorang pria berpakaian rapi di depannya serta terdapat pula sebuah layar monitor.

"Ibu, kita dimana?", tanya Budi kebingungan.
"Fokus, Budi, Fokus!", jawab ibu Budi dengan tegas.

Deng deng.. Deng deng.. Suara seperti gema lonceng terdengar berulang.

"Bagaimana, apakah anda berdua memutuskan menjawab pertanyaan ini secara langsung atau dengan bantuan yang tersisa. Gunakan telepon yang ada disamping ini untuk melakukan Phone A Friend!"

Budi tersadar, bahwa mereka sedang berada disebuah kuis. Dan pria yang dihadapan mereka adalah pembawa acara kuis tersebut.

"Budi, kita pakai bantuan terakhir. Hubungi Ani! Ini nomornya", pinta sang ibu kepada Budi.
"Ani? Ani siapa, Bu?", sambil melihat nomor yang diberikan oleh ibunya. 
"Ani istri kamu lah."

Bletaak... Suara benda jatuh membuat Budi terbangun dari mimpi singkatnya. Budi terdiam sejenak memikirkan mimpi yang dialami barusan, air matanya keluar perlahan. Dia bermimpi bersama dengan ibunya yang telah lama tiada. Dia merasa berhutang janji, mengingat semasa ibunya hidup, beliau ingin sekali dikenalkan dengan calon istri Budi. Apadaya, Budi masih saja melajang hingga hari dimana ibunya telah tiada. Ada yang menganggu dipikiran Budi. Budi masih penasaran dengan nomor telepon yang masih tersirat jelas dikepalanya. Hari belum berganti, jam masih menunjukan jam 10 malam. Iseng, seketika Budi pun menelpon nomor tersebut detik itu juga. Tapi tak bisa karena kehabisan pulsa, pagi harinya Budi membeli pulsa untuk sekali lagi menelpon nomor tersebut. Budi pun terkejut ketika nomor itu benar tersambung dan yang mengangkatnya seorang wanita. Ketika Budi memberitahu namanya, lantas Budi balik bertanya siapa nama wanita tersebut. Budi semakin tercengang ketika tau wanita tersebut bernama Ani, seumuran dengannya.
Dan Budi juga sadar, mungkin ibunya di surga meminta bantuan Tuhan untuk membuka jalan bagi anaknya. Semenjak saat itu Budi berusaha untuk mendapatkan cinta Ani. Semua karena jalan dari Tuhan melalui mimpinya bersama ibunya. Enak sekali Budi, ngacak nomor dari mimpi eh dapet kenalan. Iri.


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram). Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

TEMA : Meneruskan Kalimat, "Budi bermimpi, ia dan ibunya pergi ke...........................Tapi tak bisa karena kehabisan pulsa, pagi harinya......................."


MELAWAN AKAL SEHAT

Standard
Rasa haus dimalam hari harus memaksaku untuk memacu motorku ke sebuah swalayan (bukan swalayan yang bermaret). Sepi.
Beranjak turun dari motor, ku buka pintu swalayan dan langsung menuju ke lemari pendingin, segera kuambil beberapa minuman di dalamnya. Saat aku berbalik dan berjalan ke arah kasir, betapa terkejutnya aku, berdiri seorang perempuan cantik yang tak lain adalah kasir dari swalayan tersebut. Rambutnya terurai panjang. Kalau dibanding dengan kasir cantik yang pernah rame di sosial media, kasir ini juaranya. Kecantikan yang natural, memang tampaknya kurang ramah. Lebih tepatnya hanya bersikap pasif, jelas terlihat dari tidak adanya senyuman yang tergaris di bibirnya. Sejak saat itu aku lebih memilih beli minuman dingin atau keperluan lain di swalayan tersebut, ya meskipun pilihannya memang lebih sedikit dibanding swalayan ternama lainnya. Aku suka berbelanja malam hari sekitar jam sebelasan, karena pikirku siang pasti ramai. Dan sering kali aku dihadapkan dengan kasir itu. Suka. Meskipun tidak ada yang berbeda dari dirinya, selalu saja tidak pernah ada garis senyuman di bibirnya. Hingga suatu hari, saat aku membeli minuman dan berjalan menuju kasir di swalayan yang sama, berdirilah sosok perempuan yang berbeda dengan wajah pucat sedih serta tatapan kosong.

"Kemana mbak kasir yang biasanya?", Tanyaku dalam hati. Oh mungkin dia sedang sakit. Dilain kesempatan, aku kesana siang hari. Kasirnya malah laki-laki. Akupun memberanikan diri bertanya ke kasir laki-laki tersebut. "Mas, kasir cewek yang jaga tengah malam kemana?", tanyaku lirih. 
"Kasir? Jaga malam?", balas sang kasir.

"Kira-kira seminggu yang lalu dia masih kerja disini, rambutnya panjang dan tidak pernah tersenyum", jelasku.

Kasir baru itu pun terdiam sejenak. Kembali dia menjawab, "Maksud mas, mbak Aya? Tidak mungkin, masnya bercanda". Kasir itu tersenyum.

"Tidak mungkin bagaimana?", tanyaku bingung.

"Mas, swalayan ini hanya buka hingga jam 9 malam. Dan lagi, mbak Aya itu sudah meninggal dunia tiga bulan lalu, dia kecelakaan bersama karyawati lain yang kerja disini juga. Mereka berdua tewas di tempat."

Sontak, aku hanya terdiam. Terang saja aku terkejut, pasalnya tidak hanya sekali aku berjumpa dengan si Aya yang ternyata telah meninggal itu. Hari itu adalah hari terakhir aku berbelanja di swalayan tersebut. Entah, aku merasa kapok dan tidak ingin berbelanja disitu lagi.


_____________________

Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).
Panjang cerita terbatas, karena caption pada Instagram juga terbatas.

TEMA: Crush On Random Stranger.

TSUBASA KUNCORO

Standard
Kala senja disebuah minimarket, seorang ibu muda, bersin. 
Disaat yang sama di rumah bersalin, secara tidak sengaja terlahir ke dunia seorang manusia yang nantinya akan menjadi bahan perbincangan di masa yang akan datang.

Tsubasa Kuncoro, nama yang diberikan oleh orang tuanya setelah lama berlangganan software abal-abal Primbon Jawa. #IYKWIM
Dia tumbuh dengan baik. Diusianya yang ketiga, Tsubasa sudah bisa menggombal ala 'Bapak kamu...'.
Dilain sisi Tsubasa tetap sama seperti balita pada umunya. Tsubasa kecil senang bermain, dari mulai bermain robot-robotan hingga bermain perempuan... dalam bentuk boneka. 
Suatu hari Tsubasa diberi hadiah oleh Ibunya, benda bulat, lebih besar daripada kepalanya saat itu. Benda tersebut bernama BOLA. Tsubasa sangat senang. Sejak saat itu Tsubasa hanya bermain dengan bolanya. Meninggalkan mainannya yang lain. Namun, dia tidak tahu cara memainkan bola tersebut. Sehingga Tsubasa hanya menjilatinya saja selama 7 tahun kedepan. Hingga akhirnya Tsubasa sadar caranya bermain bola itu salah. Penasaran, dia mencari tutorial di internet cara memainkan bola dengan benar. Dan yang ditemukannya adalah permainan sepak bola. Dia tercengang, terdiam, dan muntah, Tsubasa mabuk laut. Pasalnya saat itu dia sedang naik kapal menuju Tokyo dalam rangka pindah rumah karena tempat tinggalnya yang dulu telah hancur tertimpa badan Monster yang sedang berkelahi dengan Ultraman.

Karena bola, Tsubasa mempunyai mimpi, dia sering berteriak semangat.
"Dengan bola, aku ingin menjadi.... RENTENIR!".

Maaf, maksudnya pemain sepak bola.

Dan sesampainya di Tokyo, Tsubasa mencari informasi tentang klub sepak bola.
Tsubasa mempunyai ambisi, dia bergabung dengan klub bola bernama PSTS (Persatuan Sepak Bola Tokyo dan Sekitarnya). Motto Tsubasa adalah;

"BOLA SAYA ADALAH BUNDAR, KALAU TIDAK BUNDAR BUKAN BOLA SAYA. LALU BOLA SIAPA?"

Menjalani latihan yang serius selama 6 jam... lebih 9 tahun, Tsubasa berhasil menjadi pemain profesional diusianya yang ke-19. Dengan kemampuan yang luar biasa, Tsubasa yang sekarang adalah sosok yang arogan. Tsubasa menikmati karirnya diusia muda, berprestasi, namun tetap arogan. Dia hanya menikmati urusan duniawi, berfoya-foya, lalai akan urusan dengan Tuhannya, parahnya Tsubasa tidak pernah mau tiap diajak mengaji. Suatu hari Tsubasa dihadapkan disebuah pertandingan besar dengan lawan yang teramat tangguh. Pertandingan antara PSTS (Persatuan Sepak Bola Tokyo dan Sekitarnya) melawan klub yang berasal dari negara Brazil. Klub bola tersebut bernama, Brazil.

Pertandingan pun dimulai, Tubasa menggiring bola dengan lincah dan tidak ada yang berani menghalanginya. Baru 10 detik pertama, dengan kemampuan Tsubasa, dia berhasil menciptakan gol.

"GOOOAAAALLLL!!!"
 
Skor sementara adalah PSTS 0 : Brazil 1.

Ternyata Tsubasa salah memasukkan bolanya ke gawang sendiri.

Begitulah Tsubasa, dia arogan. Tsubasa kalau arogan suka lupa diri, lupa akal.

Lantas Tsubasa tidak mudah menyerah begitu saja, dia berhasil mencetak gol diakhir pertandingan babak pertama. Skor imbang untuk kedua kesebelasan. Dibabak kedua Tsubasa berhasil mencetak 2 gol tambahan, disaat Brazil lebih dulu meraih 5 gol tambahan. Skor mencapai 6:3. Tsubasa selaku kapten kesebelasan mulai panik, permainan yang keras, bahkan tak jarang Tsubasa diberi peringatan oleh wasit yang berujung diusirnya Tsubasa dari lapangan. Tsubasa tidak terima...

"Apa maksudmu? Kamu tidak berhak mengusir saya, saya ini Tsubasa Kuncoro!", bentak Tsubasa kepada sang wasit. 
"Saya ini wasit, saya hakim disini. Sana, pergi dari lapangan!", balas sang wasit. 
Tsubasa semakin murka, "Kamu tidak berhak menyuruh saya, kamu bukan pacar saya, apalagi keluarga saya!".

Jedddaaaarrrrrr...

Seketika turun hujan dengan sambaran petir yang langsung membuat semua orang disitu terdiam atas apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tsubasa berubah menjadi batu.
Dia lagi-lagi lupa, yang jadi wasit itu Ibunya.

TAMAT


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).


Isyaratmu

Standard

Duduk berdua denganmu.
Beralas hijaunya Savana.
Suara angin yang menerpa.
Rumput liar menari kala senja.

Meski kau 'tak sanggup bersuara.
Bukan batasan untuk kita.
Pesan yang kita terima, adalah sama.
Begitu pun rasa yang kita punya.

Percayalah.

Saat kau berusaha menepis, 'tak bisa kau teriak kencang.
Ketika tanganmu yang mengatakan.
Rasa ragumu atas dirimu.
Jika kau ragu, maka ragulah.
Semakin kau ragu, semakin kau mencari
keyakinan itu.

Percayalah.

Bahwa bedamu bukan hukuman.

Sempurna adalah ketidaksempurnaan.

Sadarku adalah dirimu.

Kau mengerti.

Aku pahami.

Bukankah itu cukup?

Cukup.

Kita sama.

Percayalah.