14 Feb 2016

TSUBASA KUNCORO

Standard
Kala senja disebuah minimarket, seorang ibu muda, bersin. 
Disaat yang sama di rumah bersalin, secara tidak sengaja terlahir ke dunia seorang manusia yang nantinya akan menjadi bahan perbincangan di masa yang akan datang.

Tsubasa Kuncoro, nama yang diberikan oleh orang tuanya setelah lama berlangganan software abal-abal Primbon Jawa. #IYKWIM
Dia tumbuh dengan baik. Diusianya yang ketiga, Tsubasa sudah bisa menggombal ala 'Bapak kamu...'.
Dilain sisi Tsubasa tetap sama seperti balita pada umunya. Tsubasa kecil senang bermain, dari mulai bermain robot-robotan hingga bermain perempuan... dalam bentuk boneka. 
Suatu hari Tsubasa diberi hadiah oleh Ibunya, benda bulat, lebih besar daripada kepalanya saat itu. Benda tersebut bernama BOLA. Tsubasa sangat senang. Sejak saat itu Tsubasa hanya bermain dengan bolanya. Meninggalkan mainannya yang lain. Namun, dia tidak tahu cara memainkan bola tersebut. Sehingga Tsubasa hanya menjilatinya saja selama 7 tahun kedepan. Hingga akhirnya Tsubasa sadar caranya bermain bola itu salah. Penasaran, dia mencari tutorial di internet cara memainkan bola dengan benar. Dan yang ditemukannya adalah permainan sepak bola. Dia tercengang, terdiam, dan muntah, Tsubasa mabuk laut. Pasalnya saat itu dia sedang naik kapal menuju Tokyo dalam rangka pindah rumah karena tempat tinggalnya yang dulu telah hancur tertimpa badan Monster yang sedang berkelahi dengan Ultraman.

Karena bola, Tsubasa mempunyai mimpi, dia sering berteriak semangat.
"Dengan bola, aku ingin menjadi.... RENTENIR!".

Maaf, maksudnya pemain sepak bola.

Dan sesampainya di Tokyo, Tsubasa mencari informasi tentang klub sepak bola.
Tsubasa mempunyai ambisi, dia bergabung dengan klub bola bernama PSTS (Persatuan Sepak Bola Tokyo dan Sekitarnya). Motto Tsubasa adalah;

"BOLA SAYA ADALAH BUNDAR, KALAU TIDAK BUNDAR BUKAN BOLA SAYA. LALU BOLA SIAPA?"

Menjalani latihan yang serius selama 6 jam... lebih 9 tahun, Tsubasa berhasil menjadi pemain profesional diusianya yang ke-19. Dengan kemampuan yang luar biasa, Tsubasa yang sekarang adalah sosok yang arogan. Tsubasa menikmati karirnya diusia muda, berprestasi, namun tetap arogan. Dia hanya menikmati urusan duniawi, berfoya-foya, lalai akan urusan dengan Tuhannya, parahnya Tsubasa tidak pernah mau tiap diajak mengaji. Suatu hari Tsubasa dihadapkan disebuah pertandingan besar dengan lawan yang teramat tangguh. Pertandingan antara PSTS (Persatuan Sepak Bola Tokyo dan Sekitarnya) melawan klub yang berasal dari negara Brazil. Klub bola tersebut bernama, Brazil.

Pertandingan pun dimulai, Tubasa menggiring bola dengan lincah dan tidak ada yang berani menghalanginya. Baru 10 detik pertama, dengan kemampuan Tsubasa, dia berhasil menciptakan gol.

"GOOOAAAALLLL!!!"
 
Skor sementara adalah PSTS 0 : Brazil 1.

Ternyata Tsubasa salah memasukkan bolanya ke gawang sendiri.

Begitulah Tsubasa, dia arogan. Tsubasa kalau arogan suka lupa diri, lupa akal.

Lantas Tsubasa tidak mudah menyerah begitu saja, dia berhasil mencetak gol diakhir pertandingan babak pertama. Skor imbang untuk kedua kesebelasan. Dibabak kedua Tsubasa berhasil mencetak 2 gol tambahan, disaat Brazil lebih dulu meraih 5 gol tambahan. Skor mencapai 6:3. Tsubasa selaku kapten kesebelasan mulai panik, permainan yang keras, bahkan tak jarang Tsubasa diberi peringatan oleh wasit yang berujung diusirnya Tsubasa dari lapangan. Tsubasa tidak terima...

"Apa maksudmu? Kamu tidak berhak mengusir saya, saya ini Tsubasa Kuncoro!", bentak Tsubasa kepada sang wasit. 
"Saya ini wasit, saya hakim disini. Sana, pergi dari lapangan!", balas sang wasit. 
Tsubasa semakin murka, "Kamu tidak berhak menyuruh saya, kamu bukan pacar saya, apalagi keluarga saya!".

Jedddaaaarrrrrr...

Seketika turun hujan dengan sambaran petir yang langsung membuat semua orang disitu terdiam atas apa yang terjadi di depan mata mereka.

Tsubasa berubah menjadi batu.
Dia lagi-lagi lupa, yang jadi wasit itu Ibunya.

TAMAT


_____________________


Ini adalah salah satu cerita yang saya tulis di Instagram (@sofyanmifta) untuk gerakan #30HariBercerita dari @30haribercerita. Gerakan #30HariBercerita adalah gerakan yang mengajak semua orang untuk menulis selama 30 hari di awal tahun (Tahun 2016 ini di Instagram).


Isyaratmu

Standard

Duduk berdua denganmu.
Beralas hijaunya Savana.
Suara angin yang menerpa.
Rumput liar menari kala senja.

Meski kau 'tak sanggup bersuara.
Bukan batasan untuk kita.
Pesan yang kita terima, adalah sama.
Begitu pun rasa yang kita punya.

Percayalah.

Saat kau berusaha menepis, 'tak bisa kau teriak kencang.
Ketika tanganmu yang mengatakan.
Rasa ragumu atas dirimu.
Jika kau ragu, maka ragulah.
Semakin kau ragu, semakin kau mencari
keyakinan itu.

Percayalah.

Bahwa bedamu bukan hukuman.

Sempurna adalah ketidaksempurnaan.

Sadarku adalah dirimu.

Kau mengerti.

Aku pahami.

Bukankah itu cukup?

Cukup.

Kita sama.

Percayalah.


4 Mei 2015

Gagal Selfie

Standard
SELFIE? Yang terlintas dikepala saya ketika melihat cowok sedang selfie adalah 'Alay'. Tapi kenyataannya, saya melakukan hal alay itu. Ya, itu terjadi disaat masa - masa kritisnya rasa percaya kepada orang disekitar kita untuk mengabadikan gambar kita.
Pernah nggak sih, kalian dimintain untuk mengabadikan foto teman kalian. Dan kalian pun serius mencari sudut kamera terbaik dari segi pencahayaan, fokus dan sebagainya. Kalian ingin mencari hasil jepretan terbaik utnuk teman kalian. Setelah hasilnya jadi, kalian berfikir... "Gilaaa, foto si Kampret yang kuambil kok bagus banget. Eh gantiaaaan dong!". 
Dan ketika teman kalian dapat giliran untuk mengabadikan gambar kalian ditempat yang sama, hasilnya malah tak sebagus yang kalian ambilkan untuk teman kalian. Beneran si Kampret memang. Apa iya, kitanya yang nggak fotogenik? Atau si pemotret belum cebok. Pesan saya....

Jangan selfie di tempat yang berbahaya. Misalnya, selfie di dalam gedung yang sedang terbakar, selfie di dalam perut buaya, selfie sama buaya, darat. Dan tempat berbahaya lainnya. Tapi memang lagi musim sih selfie di tempat yang menantang, dari mulai selfie di atas gedung, di atas gunung, hingga selfie di atas penderitaan orang lain juga ada.

Dimana pun tempatnya, kita harus selalu ingat. 4 pilar kebangsaan Indonesia.



27 Apr 2015

Ceritanya Lagi Liburan

Standard
Sudah satu minggu lebih paska tamasya explore (random) kota Malang. Dan hasilnya tujuan yang dipilih adalah 'Bukit Paralayang' kota Batu dan wisata 'Banyu Anjlok' kota Malang. Saya sendiri orangnya tergolong manusia yang jarang traveling. Iya, belakangan ini lagi rame-ramenya orang berlomba-lomba untuk traveling ke banyak tempat. Nggakpapa sih, toh juga menyebarkan dan mengenal wisata Indonesia adalah sangat baik untuk kelangsungan dari kekayaan wisata di Indonesia sendiri. Banyak surga alam yang tersebar dipenjuru Nusantara. Jaga! Jangan cuma numpang selfie dan buang sampah sembarangan. Asik.
Oke, barusan adalah bagian dari skenario basa-basi.

Quality time? Tentu saja tidak.
Karena setiap saya bisa berkumpul dengan teman adalah quality time bagi saya. Di kampus, warung kopi, toilet. Wait.... What? Toilet? Nggak gitu juga sih.

Hari pertama kami singgah di kota Batu, dan menginap satu malam di villa yang jaraknya hanya sekitar -+5KM dari Bukit Paralayang. Setelah tiba di villa, menurunkan barang bawaan. Sore harinya langsung bergegas menuju ke bukit paralayang. Sesampainya disana, tujuan pertama kami adalah ke 'Omah Kayu' terlebih dahulu (satu lokasi). Mumpung masih terang dan belum terlalu malam.

Entahlah, rombongan kami tidak punya kesempatan untuk mengabadikan gambar di Omah Kayu tersebut karena ada banyak seonggok manusia yang lama ngetem dan nggak turun bergantian. Karena memang di omah kayu tersebut hanya dibolehkan 3 orang saja yang naik disetiap 1 omah kayu. Nggak tau si kampret lagi ganti oli atau main gaplek. Atau main gaplek sambil minum oli. Lama bener.

Saat matahari kian tenggelam kami bergeser ke landasan paralayang, tempat dimana kita bisa melihat pemandangan yang kalau malam akan tampak gemerlap lampu kota Batu - Malang dan sekitarnya. Kalau di Jogja sama seperti saat di Bukit Bintang.
Sejenak ngopi hore disana. Sedikit kecewa, karena ternyata susu Milo disana rasanya sama seperti susu Milo di Surabaya. Malam mulai larut, kami kembali ke penginapan. Dingin sih, tapi guyonan kami menghangatkan. Nggak juga sih, guyonan kami selalu bersifat memojokan sampai habis. Ada yang selamat? Tidak. Semua rata bergantian. Pedih? Pasti. Marah? Nggak akan. Lalu? Ketawa lagi.
Jadwal hari selanjutnya adalah menuju pantai di daerah Malang selatan. Dengan modal GPS, kami pun tersesat dan mengambil jarak terjauh. Info saja nih, buat kalian yang buta jalan. Kalau mau ke banyu anjlok (Pantai Lenggoksono) jangan ngikutin GPS, tanya orang saja. Tapi kami lega, karena bukan kami saja, melainkan banyak yang jadi korban GPS. Huahahaha...

Sore hari kami tiba di pantai Lenggoksono dan berencana menginap disana satu malam lagi. Dengan bermodal tenda, mereka pun tidur lelap. Mereka? Oiya, saya ketiduran di dalam mobil.

Juragan yang punya Blog ini

Pantai adalah tempat dimana jomblo terekploitasi. Kalau pacaran kan enak, bisa nulis nama pacarnya di pasir. Kalau jomblo? Ngubur dirinya di pasir? Ngambang di air? Dimakan ikan hiu, dimuntahin lagi. Perut hiu nggak bisa menelan makanan yang mengandung hati pahit nan hampa.
Selain itu pantai juga tempat dimana kita harus bisa mengatur strategi mata. Gimana ya, banyak cewek seksi berlalulalang. Untung saya tergolong cowok baik-baik. Jadi tiap ada cewek lewat, saya langsung tutup mata....................... pakai plastik.
Ngomongin cewek seksi, salahan mana? Dilihat tapi tidak dipikirkan daripada tidak dilihat tapi dipikirkan terus. Jangan menghakimi cewek melulu, sekali-kali pikirkan dulu dari sudut pandang yang lain.



Oke...lanjut ya...
Untuk menuju banyu anjlok menggunakan perahu hanya dikenakan biaya limapuluhriburupiah (sepaket dengan 2 wisata pantai lain). Dan entah kenapa kami memilih jalan kaki. Ya, biar greget. Nggak sih, soalnya kata salah satu pemilik warung disana banyu anjlok dapat ditempuh selama satu jam jalan kaki. Bisa sekalian menikmati pemandangan laut. Dan kami pun percaya, karena benar. Pemandangannya bagus. Tapi nyatanya waktu yang kami tempuh sekitar dua jam. Kami pun sadar, yang diceritakan pemilik warung yang tadi memang benar jalan kaki. Kakinya ultraman. Ini juga sama seperti saat liburan beberapa semester yang lalu. Kami menempuh waktu satu jam dari pantai GOA CINA ke pantai Clungup yang notabene masih asri tanpa penghuni.

Pantai Clungup



Saat kami tiba di lokasi banyu anjlok..... Ceburrrr... Sempat tenggelam, padahal airnya cuma selutut,....... lututnya ultraman. Kyaaaaaaa....
















Mungkin perjalanan ini tidak seberapa dibanding perjalanan yang kalian lalui disegala penjuru alam dan wisata lainnya. Tapi, bagi saya pribadi ini adalah moment bonus bersama teman - teman. Berkumpul sehari - hari saja cukup. Bukan quality time, melainkan #GOLDENTIME:) 

15 Apr 2015

Kuliah Kerja N? Nyepik?

Standard
Ceritanya habis packing nih, mau tamasya explore (random) kota Malang 3 hari 2 malam. Hehehe...
Nyempetin nulis dulu. Langsung aja ya....


KKN? Kuliah Kerja Nyata?

KKN? Mungkin tepatnya.............. 

Kuliah Kerja-annya.... Nyepik?
Kuliah Kerja-annya.... Nikung?
Kuliah Kerja-annya.... Nampang? 

KKN adalah salah satu bentuk kegiatan dari "Tridharma Perguruan Tinggi". Yaitu, pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Lebih tepatnya pada poin pengabdian masyarakat. KKN adalah kegiatan wajib bagi mahasiswa sebelum menamatkan gelar Sarjana. Kalau di kampus saya KKN dapat dilaksanakan ketika seorang mahasiswa telah menempuh minimal 100 SKS. KKN bukan hanya formalitas pelengkap syarat menempuh perkuliahan. Tetapi juga terdapat "esensi" di dalamnya, yang terkadang kita lupa akan esensi tersebut dan malah mempergunakan KKN sebagai ajang cari jodoh, wisata, jalan - jalan, dll. KKN adalah wadah untuk kita belajar tentang apa yang ada di luar kampus, dan bagaimana kita menghadapinya. Pemikiran apa yang akan kita berikan, karya apa yang kita buat atau kembangkan agar dapat menyelesaikan atau minimal bermanfaat bagi lingkungan masyarakat. Memang tidak semua peserta KKN kehilangan esensinya, masih ada yang tulusterjung ke lingkungan masyarakat dan mendedikasikan pikiran serta tenaganya kepada masyarakat dengan waktu yang terbatas tersebut.
Berikut adalah secuil kisah pengalaman saya ketika KKN.

Pada akhir semester V tepat setelah UAS sekaligus sidang PKL serta revisi PKL (Ngebuuuttt), saya berkesempatan ikut serta sebagai peserta KKN ta 2015/2016. Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Kelompok 25 beranggotakan 29 peserta, dan kebetulan saya sendiri ketuanya. Desa kami terbilang paling terpencil, yaitu di atas gunung. Tak heran udara disana masih asri sejuk bikin betah. Dengan air desa di atas gunung pada umumnya, dinginnya bikin melek. Kami memiliki beberapa program kerja hasil dari survei yang telah kami lakukan jauh hari sebelumnya. Dan terbagi menjadi 5 divisi yaitu Pendidikan, Adminstrasi, Kesehatan, TTG, Produksi Produk Unggul (Juara 3 produk unggulan dari semua kelompok KKN yang ikut serta saat itu sekitar 40an kelompok, dengan produk kami "Selai Kulit Durian dan Keripik Biji Durian"). Udah gitu aja. Ini kan blog gua. Serah gua dong, mau apa lo? Udah makan sega belum lo? Makan sana, ntar lo luwe. Gua lanjutin juga nih...




Piala kampus diberikan untuk pak Lurah dan Desa


Lanjut lagi, awalnya..... ya memang dasarnya lagi jomblo ya, ekspektasi kesana juga nyambi cari jodoh. Tapi semua sirna ketika rutinitas disana menang asiknya. Dan selayaknya ketua saya selalu meluangkan kesempatan turung ke lokasi per divisi. Mungkin yang lebih ekstrim adalah ketika turun ke divisi pendidikan. Hanya ada 2 SD, 1 MI, dan 2 TK disana, kebetulan saya turun ke SD dan MI. Disana saya berbagi cerita pengetahuan tentang bela negara, kebanggaan mereka terhadap lingkungannya, minimal menanamkan rasa optimism anak - anak disana bahwa sesunggahnya anak desa dan anak kota memiliki hak yang sama, hak untuk memppunyai mimpi dan berusaha. Jika dilihat dari sudut lainnya memang jelas beda, dari fasilitas yang diterima hingga apa yang didapat. Maka dari itulah menurut saya UN harus dihapuskan. Albert Einstein pernah bilang...

"Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid."

 



Sulit? Sangat sulit mengatur murid. Tiap kelas saya isi, dan berusaha senyum meski rasanya pengen ngajak smekdooon tuh bocah - bocah. Hahaha. Harus pinter ngajak kondusif. Kamu calon istriku harus bisa. Semangaaaat! #tsaaaah
Awalnya saya kira akan monoton, ternyata mereka sangat aktif dalam menjawab pertanyaan dan bertingkah pastinya. Meskipun medan yang ditempuh sangat sulit, bukit dan berbatu runcing ya hamdalah bisa memetik pelajaran gimana perjuangan mereka dibanding kita yang lebih beruntung. Diluar kegiatan akademik, jika sore hari kami membuka posko belajar untuk mereka yang ingin belajar bareng. Nah disini saya pernah dapat tamparan, saat saya tanya ke salah satu anak perempuan "Kamu lulus SD pengen lanjut kemana?". Dia pun menjawab, "Insya allah, ke SMP (salah satu SMP terfavorit), kalau ada dana." Si kampret dah jawabnya bikin gesrek hati. Memang sih SMP paling dekat dengan desa tersebut adalah SMP satu atap (gabung dengan SD). Kamu, kita yang lebih beruntung seharusnya lebih bersyukur. Kurangi foya - foya, peduli sekitar bukan hanya peduli paras.
Itulah kenapa dari awal saya ingin menanamkan rasa optimism kepada mereka. Meskipun mereka masih kecil, tapi saya yakin apa yang berkengan bagi mereka akan diingat. Nggak yakin juga sih sebenarnya. Semoga bermanfaat saja. GusDur dari desa aja keren! Kalian juga bisa keren, dek.
Ada juga si kampret masih kecil belajar silat, pas ditanya ntar gede mau jadi apa eh jawabnya mau jadi maling lah, mau jadi preman lah, mau jadian lah. Wait? What? Jadian???

Oke seperti itulah cuilan kisah, entah kenapa ngalir aja tangan nulis tentang bidang pendidikan dan anak - anak doang. Bodo amat. Blog gua, makan sana! Ntar luwe.

Naaah, lawannya di luar pasti di dalam. Dalam organisasi atau sebuah kelompok pasti ada aja yang cinlok. Minimal nyepik tipis - tipis lah. Sembari saya observasi, saya menemukan hal bedebah yang terpendam. Biasanya orang yang bertipe KKN - N for Nyepik, saat si gebetan lagi kecapekan pasti selalu diperhatikan. Dan biasanya kalau si gebetan lagi pengen banget diperhatikan pasti ada aja akalnya, misal nih..... Katanya sakit nggak bisa jalan, padahal cuma cantengan. Bilangnya sakit tumor, padahal cuma bisul. Bilangnya sakit panas, pas ditanya habis ngapain eh jawabnya nggak sengaja nelen kompor. Itu sakit macam apa? Emang biskuat, semua bisa jadi macam?

Adalagi tipe KKN - N for Nikung. Banyak nih korbannya, hahahaaa....
Ya gimana ya, campuran sih dari berbagai jurusan. Biasanya orang kalau kena tipe ini nggak jauh beda sama N for Nyepik. Kalau lagi si korban marahan sama pacarnya, pasti si kampret datang dengan lagak pahlawan. "Air matamu terlalu berharga untuk menangisinya, bukankan ada hal yang lebih agung untuk ditangisi? Sang maha pencipta. Yang telah menciptakan dunia ini, tepat yang dimana akhirnya kita bisa bertemu.".

Yang satu ini adalah N for Nampang, entahlah ini yang paling kampret menurutku. #NATO
No Action, Talk Only.
Atau yang hanya mau rajin ketika banyak yang lihat. Duh. Gitu aja sih. Hahahahaaaa...

Eh sudah dulu, ntar telat bangun. Hehehe...
Maaf jika ada salah kata, dibuat ringan aja ya.
Terimakasih telah membuang waktumu dan sampai jumpaaaa....


Happy End